Rabu, 02 Desember 2015

Cerpen singkat by me

Pagi itu aku berangkat sekolah seperti biasa. Aku berangkat sekolah pada pukul 06.30. Berangkat sekolah tidak perlu mengendarai motor apalagi naik angkot. Rumahku tidak jauh dari sekolah, bisa dibilang sih dekat dengan sekolah sehingga aku berangkat cukup jalan kaki saja, tidak perlu mengeluarkan uan. Lagi kan hehehe... Jalan kaki melewati rumah - rumah penduduk di desa ku, melewati sungai kecil (saluran selokan), melihat aktivitas penjual makanan, lengkap sudah pemandangan yang kulihat. 
Terkadang aku melihat teman-teman satu sekolah juga yang ingin berangkat ke sekolah, ya aku ikut gabung. 
Sungguh senang hatiku ketika aku berangkat sekolah di pagi hari.

  Hari berlalu, waktu itu jam sudah menunjukan pukul 07.40. Rasanya aku Harus cepat berangkat ke sekolah. Aku dengan cepat berangkat menuju kesekolah. Hatiku sungguh gelisah, ingin cepat - cepat datang ke sekolah duduk manis disana. Pikirku pasti akan terlambat jika aku tidak cepat - cepat berjalan menuju ke sekolah. Akhirnya Aku berjaan secepat mungkin, pemandangan yang indah yang biasa ku lihat, sekarang rasanya menjadi tak indah. 
Kegelisahan ku bertambah ketika sanpai di pertengahan jalan sebelum jalan raya, Aku lihat tidak ada satupun anak dari sekolah ku yang lewat atau sedang jalan menuju sekolah, tidak seperti biasanya. Karena biasanya ketika Aku berangkat sekolah melihat atau bertemu anak - anak yang dari sekolah ku yang dalam perjalanan menuju sekolah
  Waktu berlal cepat, aku berfikir lagi pasti Aku akan terlambat, tetapi dengan optimis Aku percaya diri Aku tidak akan terlambat (semoga). Jalan ku terus berjalan sampai di ujung jalan (gang depan) Aku berhenti, karena sekolah ku berada di sebrang jalan dan aku harus menyebrang jalan itu. Melewati (gang) pasar ayam. 
  Ketika suda menyebrang dan aku masuk menuju sekolah di jalan (pasar ayam) ada kejadian yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Hati gelisah, pikiran campur aduk. Dan apa yang terjadi? Ternyata kaki ku ditabrak eh bukan ditabrak sih, di senggol gitu.
Ternyata motor yang menyenggol ku. Aku tidak sama sekali menoleh kepada orang yang menabrak ku, malahan orang itu yang menoleh ketika sudah didepan ku. Aku tahu dan Aku melihat pengendara motor itu mengatakan sesuatu (entah apa yang dikatakan nya karena pada saat itu jalanan ramai), aku sih cuma bilang kepada pengendara motor itu " sabarrr pak" (entah pengendara itu mendengarkan tidak) dan ternyata seseorang yang menabrak kaki ku (pengendara motor) adalah seorang bapak bapak (agak tua sih). 
 Rasa kesal dan gelisah bertambah. Aku terus melanjutkan perjalananku. 
Sesampai di sekolah aku langsung menuju ke kelas, melewati barisan para osis yang sedang berjaga di gerbang. Kemudian, ada salah satu anak osis kelas sepuluh memanggil manggil " kak.. kak.." katanya, aku pura-pura tidak mendengar saja, rupanya dengan teiakan osis tidak membuat Aku berhenti, tiba-tiba anak osis itu menarik narik Tas yang dibawa ku. Langsung spontan " kenapa sih tarik tarik tas saya " kataku, "kurang satu menit.. kurang satu menit kak " jawabnya. 
"Iya tahu kurang satu menit! Terus kenapa? Telat gitu? Biasa gak kena loh" ku jawab lagi.
Osis itu diam, aku terus maju menuju ke kelas. Akhirnya osis itu pergi, mungkin dia balik ke barisan osis. 
Ingin ku tertawa pada waktu itu, ada ada saja cuma gara gara satu menit.
  Kacau pikiran ku pada waktu itu, Aku masuk kelas dan mengaji pagi baru saja dimulai. Aku duduk dan istirahat, memikirkan kejadian - kejadian pertama kali yang pernah aku alami. Ingin ku pulang saja pada waktu itu. Tapi yasudahlah... 
 Dan pelajaran pertama dimulai Aku pun mengikuti pelajaran seperti biasanya.

Ini pengalaman yang tidak akan Aku lupakan

Selasa, 08 Januari 2013

TRADISI DI CIREBON

TRADISI DI CIREBON
Ada suatu tradisi di daerah Cirebon dan sekitarnya, setiap bulan Safar terlihat anak-anak usia sekolah (SD, SMP), biasanya anak laki-laki berselendangkan sarung dan berpeci, berkeliling mendatangi orang-orang di keramaian, ke toko-toko atau mendatangi ke perumahan-perumahan untuk “meminta sedekah” sambil bersenandung: “Wur tawur Ji, tawur ….. selamet dawa umur” yang dilantunkan berulang-ulang. Masyarakat Cirebon dan sekitarnya menyebut tradisi ini dengan Tawurji asal kata tawur dan ji.
Biasanya, orang-orang dikeramaian itu atau toko-toko yang mereka datangi atau yang diperumahan-perumahan, apalagi yang mengetahui tradisi bulan Safar tersebut, dengan sukarela memberikan sedekah, umumnya berupa uang.
Dulu, sampai dengan tahun 1970-an, tawurji hanya dilakukan pada setiap hari Selasa di bulan Safar, tetapi kini kadangkala dilakukan di sembarang hari. Beberapa referensi menyatakan setiap hari Rabu, tetapi pernyataan hari Selasa lebih kuat.
Sebenarnya ada apa dibalik tradisi bulan Safar tersebut?
Tulisan ini terinspirasi berdasarkan email dari kang Sueb Aidi, yang katanya beliau juga mendapatkannya dari rekan Elang Rachman yang menjadi Pandito di Sumber, suatu daerah di sebelah Barat kota Cirebon. Dan ditambah tulisan-tulisan dari sumber/referensi lain.
Tradisi bulan Safar, masyarakat Cirebon biasa menyebut Safaran, erat kaitannya dengan mitos dimusnahkannya ajaran Syeh Siti Jenar alias Syeh Lemahabang atau Syeh Jabaranta yang konon dianggap ajarannya dapat menyesatkan umat Islam. Dari mitor ini lahirlah 3 (tiga) tradisi di Cirebon, yaitu: Tawurji, Selamatan kue apem dan Ngirab (semacam mandi di kali/sungai).
Ketika Syeh Siti Jenar di eksekusi pada bulan Safar 5 abad yang lalu, maka ke 40 anak asuhnya yang yatim itu menjadi terlantar. Dewan 9 wali (wali sanga) memutuskan agar setiap masyarakat (rumah) di Cirebon dan sekitarnya untuk memberikan perhatian dan santunan kepada ke 40 anak yatim tersebut.
Maka, ke 40 anak yatim tersebut setiap hari Selasa pada bulan Safar berkeliling dari rumah ke rumah sambil mendendangkan senandung do’a: “Wur tawur Ji, tawur ….. selamet dawa umur” yang artinya “Sawer Tuan Kaji … sawer, selamat panjang umur“. Tuan Kaji (haji) kedudukannya sangat terhormat di masyarakat saat itu, jadi anak-anak menyebut kesemua orang “Ji” kependekan dari Kaji, sebagai rasa hormat dan juga mengandung do’a bagi yang belum berhaji, insya Allah suatu saat juga dapat menunaikan ibadah haji.
Do’a anak-anak yatim itu manjur“, demikian tutur para wali, “Masyarakat harus memberi saweran“. Denikianlah tradisi Tawurji dibulan Safar sampai hari Selasa akhir di bulan itu, keesokan harinya dirayakan “Rebo Wekasan” (hari Rabu terakhir di bulan Safar), dengan melakukan Shalat Sunat 2 rakaat untuk tolak bala (petaka) dan kemudian bersiap-siap menyongsong perayaan Maulid Nabi (Muludan). Berabad-abad tradisi tawurji ini berjalan hingga sekarang yang merupakan amanah suci para wali untuk menangkal malapetaka.
Dalam ajaran agama Islam menyantuni fakir miskin dan anak yatim sangat jelas di sebutkan dalam Al Qur’an, Surat Al Maauun, ayat: 1 – 3 yang berbunyi:
image001.gif
image002.gif
image003.gif
  1. Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama?
  2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
  3. dan tidak (menganjurkan) memberi makan orang miskin
Jadi, apabila kita diberi kelonggaran rizki yang dititipkan Allah kepada kita, seyogyanya kita maklum bahwa di dalamnya ada haknya anak yatim dan orang miskin, maka santunilah anak yatim dan orang miskin karena mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita.
Semoga kita diberi kekuatan, kemampuan dan di ridhoi Allah SWT, Amin....

Selasa, 20 November 2012

Sejarah Kota Cirebon



Sejarah Kota Cirebon

Sejarah
Menurut Manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abad XIV di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan profil setempat. Pengurus geografi adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Padjadjaran). Dan di geografi ini juga terlihat aktivitas Islam semakin berkembang. Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.
Pada Perkembangan selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi. Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti kepada Raja Galuh. Oleh Raja Galuh dijawab dengan mengirimkan bala tentara ke Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang.
Dengan demikian berdirilah kerajaan baru di Cirebon dengan Raja bergelar Cakrabuana. Berdirinya kerajaan Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan geografi Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.

RIWAYAT PEMERINTAHAN
  1. Periode Tahun 1270-1910
    Pada abad XIII Kota Cirebon ditandai dengan kehidupan yang masih tradisional dan pada tahun 1479 berkembang pesat menjadi pusat penyebaran dan Kerajaan Islam terutama di wilayah Jawa Barat.c Kemudian setelah penjajah Belanda masuk, dibangunlah jaringan jalan raya darat dan kereta api sehingga mempengaruhi perkembangan industri dan perdagangan.

  2. Periode Tahun 1910-1937
    Pada periode ini Kota Cirebon dishkan menjadi Gemeente Cheirebon dengan luas 1.100 Hektar dan berprofil 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370).

  3. Periode Tahun 1937-1967
    Tahun 1942 Kota Cirebon diperluas menjadi 2.450 hektar dan tahun 1957 status pemerintahannya menjadi Kota Praja dengan luas 3.300 hektar, setelah ditetapkan menjadi Kotamadya tahun 1965 luas wilayahnya menjadi 3.600 hektar.

  4. Periode Tahun 1967-Sekarang
    Wilayah Kota Cirebon sampai saat ini seluas 3.735,82 hektar. Adapun urutan nama-nama yang pernah memimpin kota Cirebon dari jaman Belanda sampai dengan sekarang adalah sebagai berikut :
    • 1920-1925 Burger Meester YH. Johan
    • 1925-1928 Burger Meester SE. Hotman
    • 1928-1933 Burger Meester Gostrom Slede
    • 1933-1938 Burger Meester HEC. Kontie
    • 1938-1942 Burger Meester HSC. Hupen
    • 1942-1943 SHITJO Asikin Nataatmaja
    • 1943-1949 SHITJO Muniran Suria Negara
    • 1949-1950 Wakil Kota Prinata Kusuma
    • 1950-1954 Wakil Kota Mustofa Suryadi
    • 1954-1957 Walikota Hardian Karta Atmaja
    • 1957-1959 Walikota Prawira Amijaya
    • 1959-1960 Moh. Safei
    • 1960-1965 RSA. Prabowo
    • 1965-1966 R. Sukardi
    • 1966-1974 Tatang Suwardi
    • 1974-1981 H. Aboeng Koesman
    • 1981-1983 Drs. H. Achmad Endang
    • 1983-1988 Drs. H. Moh. Dasawarsa
    • 1988-1998 Drs. H. Kumaedhi Syafrudin
    • 1998-2003 Drs. H. Lasmana Suriaatmadja, MSi
    • 2003-sekarang Walikota Subardi, SPd Wakil Walikota Drs.H.Agus Alwafier BY,MBA

diambil dari students.ukdw.ac.id
Selanjutnya : Sejarah Kabupaten Cirebon